Mata Air di Ratu Jaya
Oleh: Dany
Hari itu hari Minggu cerah, sinar mata hari terang benderang condong di ufuk timur pagi itu pukul 06.30. kami anak-anak Sanggar Rebung kira-kira 15 orang beserta abah Ocep, kak Budi kak Tri dan kak Wowor kami bersama-sama menuju ke Ratu Jaya kira-kira satu km dari Sanggar Rebung desa itu terletak di sungai Ciliwung dgn menyebrangi jembatan kuning dalam perjalanan menuju tempat itu kami melewati rimbuan bambu. Pohon-pohon besar yang menutupi kawasan desa Kambangan rombongan dipecah menjadi dua grup saya sendiri bersama abah Ocep, Mohamad sobari,Reza ,Darul. Sepanjang jalan itu kami melewati tugu yang di tayangkan di gentayangan dan berbatasan desa Kebonduren dengan desa Kambangan pada saat itu jalan yang saya lewati jalan becek kita berjalan selama 30 menitsampai jembatan yang melintang diatas kali Ciliwung.
Jembatan itu dinamai dgn nama jembatan kuning. jembatan ini dibuat dari besi dan kawat baja serta papan untuk alas jembatan itulah yang menjadi urat nadi kegiatan masyarakat sehari-hari karena jembatan ini masyarakat dapat melalui Citayam setelah melewati jembatan kita memasuki desa Ratu Jaya di desa inilah tedapat beberapa mata air yg secara turun menurun dipergunakan oleh penduduk desa itu untuk menunjang kehidup mereka seperti memesak menyuci.
Mata air itu debitnya cukup besar. Sayangnya penduduk yang memanfaatkannya kurang melihara kebersihannya. banyak plastik-plastik bekas sabun dibuang sembarangan. demikian kami sampai ditempat itu, kami membersihkan sampah sampah itu. Kami masukan kedalam kantong plastik. Kami dengan riang dan gembira membersihkan sebagian tubuh kami dengan mata air itu.